JURNALNUSANTARA.ID, BUOL – Idul Fitri selalu menjadi momen yang dinanti-nanti, bukan hanya sebagai hari kemenangan setelah menjalani puasa Ramadan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mempererat tali persaudaraan. Menurut Muhamad Singara, S.Ag, M.Si, salah satu tradisi yang memperlihatkan keindahan kebersamaan ini adalah Morame, makan bersama yang dilakukan oleh warga Muhammadiyah setelah salat Idul Fitri.
Lebih dari sekadar menyantap hidangan, Morame adalah simbol kegembiraan, rasa syukur, dan kehangatan yang menyatu dalam setiap suapan yang dinikmati bersama. Bagi warga Muhammadiyah di Kabupaten Buol, tradisi ini lebih dari sekadar ritual tahunan—ia adalah warisan kebersamaan yang mengakar kuat dalam nilai-nilai Islam dan budaya lokal.
Merayakan Kemenangan dengan Kebersamaan
Usai menunaikan salat Id, warga Muhammadiyah berkumpul dengan membawa aneka hidangan khas. Burasa, ketupat, opor ayam, daging goreng, hingga berbagai kue tradisional tersaji di atas hamparan tikar atau meja makan. Makanan-makanan ini bukan sekadar suguhan untuk memuaskan rasa lapar, tetapi juga menjadi simbol kontribusi setiap individu dalam merayakan kemenangan bersama.
Setiap hidangan memiliki cerita—tentang tangan-tangan yang memasaknya dengan penuh cinta, tentang resep turun-temurun yang terus dilestarikan, dan tentang semangat berbagi yang menjadi inti dari tradisi ini. Tak ada perbedaan status sosial dalam Morame, semua duduk bersama dalam satu lingkaran, berbagi makanan, cerita, dan tawa.
Lebih dari Sekadar Makan Bersama
Di balik keceriaan dan hidangan lezat, Morame memiliki makna yang lebih mendalam. Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi juga waktu untuk merefleksikan perjalanan spiritual yang telah dilalui selama Ramadan. Puasa mengajarkan ketahanan diri, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama.
Melalui Morame, nilai-nilai ini diwujudkan dalam bentuk nyata. Tidak hanya tentang makan, tetapi juga tentang berbagi kebahagiaan. Tidak ada yang dibiarkan sendiri, semua mendapat tempat dalam lingkaran kebersamaan. Ini adalah bentuk kemenangan sejati—kemenangan atas egoisme, kemenangan dalam membangun hubungan sosial yang lebih erat.
Menghubungkan Generasi dalam Tradisi
Salah satu keindahan Morame adalah bagaimana ia menyatukan semua generasi. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia duduk bersama dalam satu suasana penuh keakraban. Perbedaan usia tidak menjadi batasan, justru menjadi jembatan untuk menyatukan hati dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan.
Bagi anak-anak, ini adalah momen belajar tentang pentingnya berbagi dan menghormati tradisi. Bagi orang dewasa, ini adalah kesempatan untuk mengajarkan makna Idul Fitri yang sesungguhnya. Sementara bagi para orang tua, ini adalah bukti bahwa nilai-nilai kebersamaan masih terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Silaturahmi yang Dipererat dengan Jabat Tangan
Selain menikmati hidangan, tradisi Morame juga diakhiri dengan saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Tangan yang saling berjabat bukan sekadar gestur formal, tetapi sebuah bentuk penguatan ukhuwah Islamiyah. Dalam setiap genggaman, ada doa dan harapan agar hubungan antar sesama tetap terjalin erat, agar persaudaraan ini tidak hanya sebatas di hari raya, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Jabat tangan ini menjadi simbol bahwa Idul Fitri bukan hanya soal perayaan, tetapi juga momen untuk memperbaiki hubungan, menghapus kesalahpahaman, dan memulai kembali dengan hati yang bersih. Inilah esensi dari hari kemenangan—bukan hanya menang dalam menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menang dalam menjaga hubungan baik dengan sesama.
Morame: Tradisi yang Menyatukan
Morame bukan hanya soal makanan. Ia adalah cerminan dari nilai-nilai Islam yang sejati—persaudaraan, kebersamaan, dan kepedulian. Melalui tradisi ini, warga Muhammadiyah tidak hanya merayakan Idul Fitri sebagai hari kemenangan dalam arti harfiah, tetapi juga sebagai hari kemenangan sosial, spiritual, dan emosional.
Sumber : Muhammad Singara